Sapardi … Hening

(Foto oleh KOMPAS/Don Sabdono. 1984)

I

Pada mulanya adalah hening; kesunyian kosong yang gelap di dalam ruang ketiadaan. Dalam hening itulah suara lalu dikandung sebagai kemungkinan; harapan untuk meng-ada, sebelum lidah mengucap kata.

Salah satu suara yang keluar dari hening itu adalah suara kita manusia; yang tentu saja berhasil menjadi ada tidak dalam sekali bisikan suara. Sebelum kita, jutaan suara telah terbawa lewat udara; bunyi letusan gunung yang menyembur debu dan magma; serta suara petir yang menderu di cakrawala.

Sesudah ada suara bumi, kosong yang sunyi perlahan menjadi mungkin untuk terisi. Dan kemudian, bersorak-soraklah; paus yang megah di laut lepas, elang yang gagah di langit luas, serta apa saja; yang bertunas dan yang bernafas; yang tumbuh; menubuh; menabuh gendang semesta raya; menari dendang terang cahaya.

Dan di tengah riuh pesta semesta, meng-ada-lah kita para manusia; yang lalu bingung bertanya-tanya: “Siapakah sang tuan rumah?”

II

Hasrat untuk menjadi tahu memang telah menyejarah di dalam pikiran manusia. Bahkan dalam bergeraknya evolusi bakal-manusia, hasrat untuk menjadi tahu telah turut di dalam DNA. Kita adalah makhluk yang ingin bisa memahami dan pada saat yang bersamaan menanti hari untuk terpahami. Hasrat inilah yang mungkin mengawali proses terbentuknya bahasa. Sebuah rangkaian bunyi yang fungsinya mengantar makna.

Bahasa lalu memungkinkan manusia untuk semakin bekerja sama; membuka peluang terbentuknya sebuah peradaban yang mungkin tak pernah terbayangkan oleh bakal-manusia yang belum berbahasa. Bahkan dalam beberapa catatan kuno dikisahkan tentang betapa hebatnya bahasa itu. Dalam kisah itu diceritakan bahwa dahulu kala; ketika bahasa manusia masihlah satu, manusia berhasil membangun Menara Babel yang tingginya menembus langit. Kehebatan ini lalu membuat manusia bermegah diri, sehingga Tuhan geram dan mengacaubalaukan bahasa mereka.

Sangatlah mudah untuk membaca kisah ini dengan ceroboh; bahwa manusia tak pantas melampaui langit, atau juga mengartikannya secara sempit; bahwa kisah ini sekedar upaya peradaban kuno untuk menjelaskan bagaimana terbentuknya ragam bahasa. Namun ada hal lain yang lebih krusial untuk dimaknai, yakni bahwa kisah ini adalah sebuah gambaran utopis umat manusia, jika saja kita semua bisa saling memahami.

III

Sajak-Sajak Empat Seuntai. Sapardi Djoko Damono. 1989.

Terlepas dari semua kisah-kisah; sudah sewajarnya kita bertanya; apakah kita, dalam relasi terkecil aku dan kamu saja, misalnya, bisa berhasil memahami satu dengan yang lain secara utuh? Apakah mungkin, bahwa dengan bahasa yang kita punya; melalui pengucapan kata-kata, kita bisa bersama menembus batas-batas langit?

Pada kenyataannya, kita tidak benar-benar tahu; apalagi jika harus memastikan bahwa kata-kata yang kita ucapkan akan dipahami persis sama seperti apa yang kita niatkan. Kata-kata hanyalah sebuah suara; sebuah bunyi, ataupun simbol jika ia kita tuliskan. Dalam membicarakan kasih sayang, misalnya, kasih sayang adalah sebuah emosi purbakala yang telah ada jauh sebelum kita mengenal bahasa. Sebelum kasih itu menjadi perkataan, ia telah ada sejak mulanya sebagai sebuah perasaan. Namun tetap saja, dengan segala keterbatasan bahasa …

/1/

kukirim padamu beberapa patah kata
yang sudah langka –
jika suatu hari nanti mereka mencapaimu,
rahasiakan, sia-sia saja memahamiku ⁸

… kita perlu terus berbagi kata. Memang sangatlah mungkin untuk terjadi, bahwa kita akan dipahami dan memahami secara utuh, justru saat pikiran telah mudah lelah; atau ketika petang sudah mulai memanggil pulang. Namun hal-hal seperti itu sudah lama menjadi bagian dari kisah kita manusia. Jangankan saling memahami, diri sendiri saja belum tentu bisa kita mengerti. Bahkan sangatlah juga mungkin bahwa pemahaman yang akan kita temui pada petang yang sudah sangat dekat dengan malam itu adalah bahwa memahami dan terpahami itu adalah tidak ada; hanyalah hampa semata; dan yang isi dan berarti hanyalah sebatas kata. Kata saja dan tidak ada lagi. Dan jika demikian, maka sia-siakah mereka yang menaruh kebahagiannya di atas harapan untuk terpahami? Ataukah mungkin, bahwa kata-kata bukanlah perihal pengertian dan kesimpulan, tapi lebih tentang kepergian dan jalan pulang? Sebab …

/2/

ruangan yang ada dalam sepatah kata
ternyata mirip rumah kita:
ada gambar, bunyi, dan gerak-gerik di sana –
hanya saja kita diharamkan menafsirkannya ⁸

… kata-kata adalah apa yang memungkinkan kita untuk bisa memikirkan waktu yang bukan di saat ini; tentang langkah kaki yang paling pertama, tentang segala keresahan yang telah lalu, atau perihal kisah kasih yang masih malu-malu. Tidak hanya itu, kata-kata juga memungkinkan kita untuk menggambarkan tempat yang bukan tempat ini. Kita mengalami dan menanti semuanya itu di dalam ruang kata-kata. Pikirkan sesuatu yang berada di luar kata-kata. Tidak ada. Bahkan kosong-yang-maha-hampa-dan-nihil-sama-sekali saja masih membutuhkan delapan kata. Lantas, apakah kata-kata adalah segalanya manusia, atau justru penjaranya? …

/3/

apakah yang kita dapatkan di luar kata:
taman bunga? ruang angkasa?
di taman, begitu banyak yang tak tersampaikan
di angkasa, begitu hakiki makna kehampaan ⁸

… Sungguh, manusia dan tanda tanya adalah musuh turun-temurun yang diam-diam saling mencintai. Semakin kita mencoba menghabisi tanda tanya, semakin nyata ia berlipat ganda; sampai pada suatu titik, kita berdiri di depan cermin; dan menemukan bahwa aku dan tanda tanya telah menubuh dalam satu daging yang sama; tak bisa lari, tak bisa pergi. Ketidak-tahuan adalah kehidupan itu sendiri. Maka cintailah ketidak-tahuanmu. Begitukah? Itukah jalan keluarnya? Ataukah kita perlu berhenti dan tidak lagi berpikir terlalu jauh? Pikirkan yang di depan mata saja — seorang pengasih menaruh rindu dan harapannya di dalam diam; mungkin diam-diam dia sudah tahu bahwa kata-kata tidaklah cukup mampu untuk menyampaikan sebuah pesan tentang besar kasihnya yang … …

/4/

apa lagi yang bisa ditahan? beberapa kata
bersikeras menerobos batas kenyataan –
setelah mencapai seberang, masihkah bermakna,
bagimu, segala yang ingin kusampaikan? ⁸

… lalu bagaimana kita mendamaikan segala sesuatu yang gagal disampaikan kata-kata, sementara hal-hal yang tak tersampaikan kata itu bisa saja adalah apa yang ternyata benar-benar paling bermakna? Dan karenanya diam adalah sebuah kekhawatiran — atau keyakinan — terhadap kegagalan kata-kata itu sendiri. Inikah yang dimaksud Wittgenstein ketika mengatakan: “Memang ada hal-hal yang tidak dapat dikatakan. Hal-hal itu mencerminkan diri. Itulah mistis.”? Baiklah. Mungkin memang demikian, bahwa apa yang gagal dikatakan kata-kata … … … gagal dikatakan kata-kata.

/5/

dalam setiap kata yang kaubaca selalu ada
hurung yang hilang –
kelak kau pasti akan kembali menemukannya
di sela-sela kenangan penuh ilalang ⁸

Pada akhirnya, kita hanya bisa menerka-nerka perihal apa yang masih terpendam, perihal apa yang hanya bisa dibagi di dalam diam, dan perihal kemungkinan-kemungkinan yang di-tidak-mungkin-kan kata-kata. Mungkin keyakinan dan harapanlah jalan satu-satunya, bahwa pada suatu hari nanti, makna akan mulai mengeja dirinya sendiri; tanpa lagi memerlukan kata. Dan semoga saja, sebelum hari itu tiba, kita akan tersenyum pada kenangan, — sebab walau dalam keterbatasan bahasa, kita telah menggunakan kata dengan sebaik-baiknya — dan kita bisa berbangga dengan hidup yang telah kita cintai sepenuh-penuhnya, dan lalu masuk ke dalam hening; ke dalam kasih yang sederhana; kasih abadi yang maha sunyi.

Ditulis untuk mengenang Sapardi Djoko Damono.

--

--

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store